Perjalanan menuju prestasi tingkat nasional bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan ketekunan, keberanian, dan mental yang kuat untuk bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai daerah. Perjuangan inilah yang sukses dilalui oleh murid SMAIT Al Hasanah dalam ajang Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR-8) tingkat nasional tahun 2026.

Prestasi membanggakan ini ditorehkan oleh ananda Talyta Mutyara Fenika, siswa kelas XI Sa’id bin Zaid. Alhamdulillah ananda Talyta berhasil menyabet Juara Harapan 3 tingkat nasional setelah melalui persaingan yang sangat ketat.

Perjalanannya tentu tidak instan. Kompetisi bermula dari babak penyisihan yang diikuti oleh 402 peserta dari seluruh penjuru Indonesia. Berbekal kemampuan penalaran sains yang matang serta semangat pantang menyerah, Talyta berhasil menyingkirkan peserta lain, menembus babak semifinal, hingga akhirnya melaju dan bersinar di babak final KSNR-8 Nasional.

Setiap tahapan seleksi menjadi tantangan tersendiri. Tingginya tingkat kesulitan soal menuntut konsentrasi tinggi dan kemampuan analisis yang tajam. Hingga akhirnya, kerja keras tersebut terbayar manis dengan trofi Juara Harapan 3, sebuah pencapaian yang patut disyukuri dan dibanggakan oleh keluarga besar SMAIT Al Hasanah.

Tidak hanya Talyta, ajang nasional ini juga diikuti oleh ananda Aziza Nur Alta Dopy, siswa kelas X Mu’adz bin Jabal yang turut berjuang mengharumkan nama sekolah. Meski belum berhasil membawa pulang medali, keikutsertaannya di panggung nasional merupakan pengalaman luar biasa untuk mengasah mental, menguji kemampuan, dan membangun kepercayaan diri.

Bagi SMAIT Al Hasanah Bengkulu, KSNR-8 bukan sekadar kompetisi berburu medali. Ada keberanian ananda untuk mencoba, pengalaman menghadapi rival berkualitas tinggi, serta pelajaran berharga tentang arti sebuah perjuangan. Terkadang, pengalaman hari ini adalah fondasi kokoh untuk meraih prestasi yang lebih besar di masa depan.

Keluarga besar SMAIT Al Hasanah menyampaikan rasa syukur dan baarakallah kepada Talyta dan Aziza. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari kerja keras para siswa, dukungan orang tua, serta bimbingan penuh kesabaran dari guru pembina yang selalu mendampingi setiap langkah latihan mereka. Jazakumullah khairan katsiran atas segala waktu, tenaga, dan ilmu yang telah dicurahkan untuk membimbing mereka hingga menorehkan prestasi membanggakan ini.

“Belum membawa pulang medali bukan berarti pulang tanpa kemenangan. Ada pengalaman, keberanian, dan semangat baru yang menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh.”

Share This

Share This

Share this post with your friends!