Di sebuah timeline social media, muncul ilustrasi yang menarik untuk dimaknai. Digambarkan ada seorang anak muda tampil di atas panggung. Tidak panjang yang box dialog yang diceritakan dalam ilustrasi itu. Hanya sebuah kalimat, “Tuhan telah mati.”
Mendengar kalimat itu dari pemuda yang tampil, para penonton pun bersorak memuji.
“Whoaaa”
“Kereeeen!”
“Bravo!”
Anak muda itu pun turun dari atas panggung. Berbagai pujian pun terus mengalir diberikan. Ada yang mengucapkan filsuf muda, ada juga yang menyebutkan intelektual masa depan. Berbagai pujian menerbangkan anak muda tersebut.
Gambar selanjutnya menceritakan berbagai pemikiran “ngawur” anak muda ini. Dia seolah diselumuti oleh berbagai pikiran keliru yang perlahan tapi pasti menyesatkan. God is a concept, Islam mesti direformasi, angin segar peradaban, penyair sejati, humanis, dan masih banyak lagi kata-kata yang melambungkan anak muda tadi.
Di gambar terakhir, konten kreator yang bernama @abun_nada di Instagram ini memberikan pesan yang menarik.
“Saat kau menari, perhatikan siapa yang menabuh gendang dan bertepuk tangan untukmu. Niscaya kan akan tahu ke mana irama mereka akan menggiring langkahmu.”
Apa pesan yang bisa kita dapatkan dari ilustrasi tadi? Setiap dari kita pasti punya penafsiran sendiri.
Tentang seni dalam Islam. Islam sama sekali tidak melarang seni. Karena seni itu indah dan Islam pun mengajarkan keindahan. Tapi perlu diperhatikan apa definisi indah dalam pandangan Islam? Apakah dengan mempromosikan kebebasan berpikir dan enggan terikat dalam syariat? Tentu saja bukan. Apakah indah menurut Islam sama juga dengan definisi indah menurut barat? Tentu saja bukan. Islam berbeda, dan jangan takut menjadi berbeda. Karena kalaulah Islam sama dengan agama-agama lain, bagaimana mungkin Allah menurunkan firman,
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …”
(QS Al-Maidah: 3)
Islam adalam agama yang sempurna dan tidak sama dengan agama lainnya. Agama yang sempurna tentunya mencakup keseluruhan aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya tentang seni dan keindahan.
Mengaitkan dengan cerita awal tadi, yaitu tentang syair. Sejak zaman Rasulullah dahulu sudah ada syair. Tapi syair yang seperti apa?
Memang, ada banyak syair yang menyesatkan. Karena begitulah Rasulullah sempat dihina oleh kafir quraisy dengan ucapan orang gila, penyihir, bahkan penyair. Mereka mengira bahwa Al-Quran yang diturunkan oleh Allah langsung ke Rasulullah disebut syair ciptaan manusia. Padahal jelas kualitas firman Allah berupa Al-quran dengan kalimat indah ciptaan para penyahir jauh berbeda. Bukan hanya jauh berbeda, tapi tidak layak untuk dibandingkan.
Syair tidaklah dilarang secara mutlak dalam Islam. Seperti halnya alat pendukung dakwah lainnya. Setiap ulama memiliki pendapat tersendiri yang seharusnya bisa kita terima dengan lapang dada. Yang layak kita kritisi bersama adalah, syair seperti apa yang diciptakan oleh manusia tersebut?
Syair dalam KBBI adalah puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat larik (baris) yang berakhir dengan bunyi yang sama. Syair, puisi, lirik lagu, atau apapun namanya adalah seni dengan rangkaian kata. Pertanyaannya adalah, mengarah ke mana syair, puisi dan lagu yang diciptakan? Apakah semakin mendekatkan kepada pencipta atau malah menjadi promotor lahirnya “tuhan-tuhan” lain? Apakah semakin mencintai Allah atau malah mencintai manusia melebihi Sang Pencipta? Apakah semakin mencintai seni lalu lupa dengan Al-quran sebagai kitab suci?
Seberapa penting syair bagi kita, sebagai tujuan atau alat pendukung saja?