Al-Quran adalah petunjuk dan warisan Rasulullah yang diberikan kepada umat yang hidup setelah masa kehidupan beliau. Di dalam Al-Quran ada banyak sekali petunjuk dan aturan – aturan yang menjaga setiap muslim dari keburukan dan menuntun kepada kebaikan.

Akan tetapi, kadang kala atau bahkan seringkali, rasanya cukup sulit untuk bisa memahami al-Quran dengan baik. Sebenarnya hal tersebut bukanlah hal yang aneh. Sejak lama, para ulama pun mengetahui bahwa memahami al-Quran merupakan sesuatu yang tidak mudah. Hanya orang – orang tertentu dengan hati dan niat yang bersih yang mampu memahami al-Quran sesuai dengan apa yang seharusnya.

Ada beberapa hal yang biasa menjadi tabir dan juga penghambat seseorang dalam memahami al-Quran. Secara umum, penghambat ini ada empat macam, yaitu:

1. Fokus pada makhraj huruf Al-Quran

Mempelajari al-Quran dan cara pengucapan yang benar sesuai makhraj huruf tentu saja bukan sesuatu yang salah. Namun, sebagaimana hal lainnya, hal yang berlebihan lebih sering memberikan dampak yang kurang baik. Begitu pula saat seorang muslim terlalu fokus pada makhraj huruf dalam al-Quran.

Ketika seorang muslim terlalu fokus pada makhraj huruf, dia akan cenderung sibuk mengulang – ulang huruf yang dibacanya. Di sisi lain, dia pun menjadi lupa untuk memahami makna dari apa yang ada di dalam kandungan al-Quran tersebut.

2. Taklid kepada suatu paham

Islam adalah agama yang mementingkan kepahaman umatnya. Bahkan, seorang muslim pun dianjurkan untuk memahami sesuatu dengan baik terlebih dahulu baru kemudian bersikap taat. Muslim yang memiliki pemahaman yang baik akan terhindar dari sikap taklid. Yaitu mengikuti sesuatu secara buta.

Saat seseorang menjadi taklid pada satu paham atau madzhab, maka dia akan cenderung membatasi diri dan fanatik kepada paham atau madzhab tersebut. Hal ini akan menghadirkan subjektivitas yang bias sehingga sulit untuk memahami isi kandungan Al-Quran secara baik.

3. Terus melakukan dosa dan tergoda pada nafsu dunia

Dosa akan menghadirkan kegelapan di dalam hati. Lama kelamaan, kegelapan itu akan menjadi semakin pekat dan menutupi hati. Apalagi jika dosa tersebut dilakukan berulang kali. Orang yang terus melakukan dosa dan mengikuti nafsu dunia disebut sebagai orang yang termakan tipu daya dan tidak termasuk orang yang berakal. Sementara al-Quran adalah kitab yang hanya bisa dipahami oleh orang yang berakal.

4. Menganggap tidak ada makna lain dari kalimat Al-Quran

Sebagian kaum muslimin ada yang menganggap bahwa kalimat dari al-Quran hanya memiliki satu makna saja. Sebagaimana makna yang tertulis di dalam Al-Quran. Kecuali jika makna tersebut berasal dari Ibnu Abbas, Mujtahid, atau lain – lainnya.

Padahal, sejak masa sahabat pun, para sahabat nabi biasa memiliki pendapat yang berbeda tentang makna yang terkandung dalam al-Quran. Dengan kata lain, para sahabat juga terbiasa menafsirkan dan memahami al-Quran sesuai dengan pendapat dan ijtihad pribadi yang mereka miliki.

Akan tetapi, tafsir yang dimaksud oleh para sahabat ini hanya berkuktat di ranah penggambaran. Dan bukan pembatasan rinci mengenai makna dari lafazh yang ada dalam al-Quran. Sebagai contoh, definisi Ash-shirathal mustaqim mereka tafsirkan sebagai Islam, al-Quran, as-Sunnah, Sunnah Khulafaur Rasyidin, jalan ubudiyah, atau ketaatan pada Allah dan Rasulnya.

Selain itu, ada juga kalimat lahwal hadits yang diartikan sebagai nyanyian atau lagu. Hal ini disebut sebagai penggambaran dan bukan suatu bentuk penafsiran.

Share This

Share This

Share this post with your friends!