Pernahkah Anda berpikir mengapa Al-Quran diturunkan secara bertahap? Atau mengapa Al-Quran tidak diturunkan secara langsung saja sebagaimana kitab para nabi sebelumnya? Namun, jika Anda memahami hikmahnya, justru metode penurunan Al-Quran ini justru merupakan hal yang istimewa.
Secara umum, Al-Quran diturunkan dalam dua tahap. Yang pertama adalah tahap penurunan secara global. Dimana al-Quran diturunkan ke langit dunia. Tahap kedua merupakan tahap penurunan al-Quran secara berangsur – angsur selama 23 tahun atau selama masa kenabian.
Ada setidaknya tiga hikmah yang bisa diambil dari penurunan al-Quran secara bertahap ini, yaitu:
1. Mengukuhkan Hati Nabi atas Perlakukan Buruk Orang Kafir
Dakwah bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Bahkan oleh seorang Nabi Muhammad sekalipun. Tantangan dan perlakuan buruk orang kafir juga sering didapatkan oleh Nabi Muhammad. Sehingga, Allah pun menurunkan al-Quran secara bertahap untuk mengukuhkan hati Nabi Muhammad dan juga menjadi hiburan serta dukungan dari Allah SWT.
Beberapa ayat yang diturunkan untuk tujuan ini adalah QS Al-Furqan: 32 dan QS Al-An’am: 34, yang berbunyi:
Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)
(QS. Al-Furqan: 32)
Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.
(QS. Al-An’am: 34)
2. Menenangkan Hati Nabi Ketika Wahyu Turun
Menerima wahyu dalam bentuk al-Quran adalah sesuatu yang berat. Bahkan dan surat Al-Hasyr disebutkan bahwa besarnya keagungan al-Quran ini dapat membuat sebuah gunung bersujud.
Sekiranya Kami turunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.
(QS. Al-Hasyr: 21)
Karena itulah, Al-Quran diturunkan secara bertahap. Sehingga hati Nabi tidak sampai merasakan kegelisahan yang dahsyat sebagaimana yang mungkin terjadi jika Al-Quran diturunkan secara global sekaligus.
3. Bertahap Dalam Menentukan Hukum
Hikmah lainnya dalam penurunan al-Quran secara bertahap adalah hukum yang disampaikan secara bertahap. Dengan begitu, manusia yang menerimanya tidak merasa kaget dan berat dalam menjalankannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin dan menghargai proses yang diperlukan manusia untuk bisa menjalankan kebaikan dengan seutuhnya.
Salah satu contohnya adalah tentang hukum pelarangan khamr. Pada saat itu, khamr merupakan sesuatu yang telah menjadi budaya dan tradisi di kalangan kaum Quraisy. Mengharamkan khamr secara langsung akan membuat kaum Quraisy kaget dan kesulitan untuk mengikutinya. Karena itu, hal ini disampaikan secara bertahap.
Ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum akhirnya khamr diharamkan secara total. Pada tahap pertama, khamr tidak langsung diharamkan secara mutlak. Akan tetapi, lebih ditekankan kepada keburukan atau mudharat yang didapatkan. Dimana mudharat dari khamr jauh lebih banyak dibandingkan dengan manfaatnya.
Setelah itu, khamr mulai diharamkan dalam kondisi tertentu, khususnya pada waktu shalat. Karena saat seseorang mabuk, maka orang tersebut tidak akan sadar dengan apa yang diucapkan. Dengan begitu, beberapa orang memilih alternatif minuman lain, dan hanya meminum khamr di malam hari. Baru setelah itu, khamr diharamkan secara mutlak. Begitu juga dengan jenis – jenis minuman keras lainnya.
Itulah beberapa hikmah yang bisa diambil dari penurunan al-Quran secara bertahap. Selain hikmah tersebut tentu saja masih ada banyak lagi hikmah yang bisa diambil dari metode penurunan Al-Quran ini.