Kalaulah kita benar-benar jujur dengan hati, kita tidak akan menemukan celah bagaimana Islam menghalalkan pacaran. Walaupun mungkin modus yang digunakan adalah,

“Kita nggak ngapa-ngapain kok.”

“Kita hanya saling mengingatkan dalam kebaikan loh.”

“Dia mengingatkan aku untuk ibadah. Karena itulah aku pacaran dengan dia.”

Sekali lagi, kalaulah kita benar-benar jujur dengan hati, pasti ada yang keliru dengan kalimat ini. Bukan hanya membaca kalimat-kalimat, bahkan saat melakukan (pacaran) pun pasti ada hal yang tidak nyaman. Hanya saja kita seringkali menyaman-nyamankan rasa ketidaknyamanan tersebut.

Allah sudah berfirman yang artinya,

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”
(Al-Israa’: 32)

Coba maknai kembali ayat tersebut. Allah bukan hanya melarang jangan melakukan zina, melainkan jangan mendekati zina. Mendekati saja tidak boleh, apalagi melakukan. Begitulah sederhananya.

Hanya saja, banyak yang beralih dengan kalimat-kalimat tadi. Seolah mereka mengartikan zina dengan konteks yang begitu sempit seperti berhubungan badan. Padahal makna zina bukanlah sesempit itu. Ada zina mata, zina telinga, zina tangan, zina kaki, bahkan zina hati.

Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, sebenarnya kita sudah sama-sama tahu apa hukum pacaran dalam Islam. Tapi sekali lagi, banyak alasan yang kita cari untuk membenarkan dan melanjutkan kekeliruan yang kita alami.

Dalam sebuah kajian, ada analogi menarik yang disampaikan oleh seorang ustadz.

Bayangkan kita sedang berada di depan rumah. Lalu ada orang di depan rumah yang melewati rumah kita. Kita bisa saja mengabaikan orang tersebut atau sekadar menyapanya begitu saja. Tapi kita bisa juga mengizinkan orang tersebut datang ke teras rumah kita. Dengan hadirnya orang tersebut, bisa saja kita membicarakan hal yang baik-baik atau sebaliknya, hal yang buruk. Kita bisa membicarakan kerjasama atau bisa juga membicarakan tetangga. Begitulah bisikan yang ada dalam hidup kita. Apakah bisikan baik atau bisikan dari setan, kita harusnya punya kendali. Membiarkan bisikan itu lewat begitu saja, mengizinkan hadir dan mengendalikan, atau malah terjebak dengan jebakan setan.

Penyucian jiwa. Penting bagi kita terus menerus menyucikan jiwa agar peka dengan hal seperti tadi. Peluang amal atau jebatan kemaksiatan. Kalaulah kita sudah terbiasa melakukan penyucian jiwa, insyallah zina pun bisa kita jauhi.

Apa saja yang bisa dilakukan agar terjauh dari zina?

Pertama, sadari terlebih dahulu bahwa makna zina bukanlah sesempit seperti yang dijelaskan tadi. Bahwa zina itu begitu luas dan menghantui. Sadari itu, maka kita bisa berhati-hati atas gejala-gejala yang memungkinkan kita mendekati zina. Tapi bukan berarti malah hidup dengan ketakutan seolah-olah di mana-mana ada zina. Bukan begitu.

Kedua, miliki pergaulan yang positif. Bertemanlah dengan orang-orang shalih yang senantiasa mengingatkan kita dalam kebaikan. Mereka yang sabar dalam beribadah dan juga mengajak untuk berbuat baik bersama-sama. Bisa jadi dalam proses membersamai orang shalih ada rasa bosan yang menghampiri. Tapi coba maknai kembali. Bayangkan jika tidak ada lagi orang yang mengingatkan, malah jadinya kita semakin jauh terjebak dalam kemaksiatan. Jalani saja dulu. Rasa bosan itu kadang hanya asumsi yang tidak benar-benar terjadi. Percayalah, bersama dengan lingkungan yang shalih itu membuat hati kita nyaman dan terjaga.

Ketiga, mintalah pertolongan kepada Allah. Berdoa sebenar-benarnya kepada Allah. Mintalah kepada Allah agar menjaga kita dan keluarga kita dari “neraka dunia” dan neraka akhirat kelak. Inilah senjata utama dan paling canggih agar kita terjaga dari zina. Berdoa.

Masih ada alasan untuk menghalalkan pacaran? Tanya saja pada hati masing-masing.

Share This

Share This

Share this post with your friends!