Di dunia nyata, kita banyak bertemu orang secara nyata. Pun di dunia maya, kita juga bertemu banyak orang, walau hanya secara maya. Baik di dunia nyata atau maya, kita sama-sama punya peluang bertemu orang yang kita inginkan. Atau mungkin lebih tepatnya orang yang dibutuhkan.

Kesan pertemuan fisik dan dunia maya pasti berbeda. Karena nyatanya, banyak orang yang bahagia ketika bertemu sosok yang dia kagumi di dunia nyata. Lantas setelah berjumpa, apa lagi? Foto bersama.

Rela mengantri panjang demi hanya foto bersama. Setelah itu apa lagi? Posting di social media. Setelah itu apa lagi? Dapat like banyak. Setelah itu apa lagi? Semakin mengagumi. Setelah itu apa lagi? Mengoleksi segala barangnya. Setelah itu apa lagi?

Pola yang sama akan terjadi. Pola yang berulang, tapi tidak memberikan pergerakan yang berarti. Terhenti hanya sebatas mengidolakan manusia yang mestinya tidak perlu diidolakan. Kenapa? Karena yang namanya manusia, tempat banyaknya cela. Tapi saat nafsu sudah mengusai, cela yang diidolakan tidak lagi terlihat. Maka ada pesan sindiran yang menyebutkan, “tahi terasa coklat”.

Tentu fenomena ini layak dikritisi. Apalagi bagi seorang Muslim. Harusnya cukup Rasulullah SAW yang diidolakan. Nyatanya tidak. Rasulullah SAW kita kenal seadanya, tapi idola yang banyak cela banyak tahunya. Naasnya lagi, sosok yang diidolakan bukan Muslim atau tidak mendekatkan diri kepada Allah. Ini PR besar bagi kita untuk generasi masa depan.

Mengagumi adalah hal yang wajar bagi manusia. Tapi cukuplah seadanya saja. Beri ruang kecewa agar kelak saat hal yang di luar ekspektasi terjadi, tidak sakit hati. Kita sudah bersiap untuk kecewa.

Lalu, siapa yang layak kita kagumi? Setidaknya beri indikator sederhana. Akankah dia mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta? Tentu, ini bukan alasan pacaran syar’i. Karena jika dua lawan jenis saling mengagumi, rentan malah terjebak di hal yang dilarang syariat.

Oke, anggap saja sosok yang dikagumi sesama laki-laki atau sesama perempuan. Lantas apa lagi? Bolehlah minta foto bersama jika bertemu? Sebenarnya sah-sah saja. Bukankah hal tersebut bisa memberikan kebahagiaan? Tapi jangan terhenti hanya di foto. Tapi mintalah nasihat. Bahkan akan lebih baik lagi jika urutannya diubah. Minta nasihat, baru foto bersama.

Saat kita merantau, peluang untuk bertemu orang besar itu lebih terbuka lebar. Maka manfaatkanlah sebaik-baiknya. Jika bertemu orang besar, yang didahulukan adalah minta nasihat, doa, barulah foto. Jangan dibalik urutannya.

Kenapa nasihat? Karena kita adalah manusia yang butuh nasihat sebagai pengingat dan penguat.

Kenapa doa? Karena kita tidak tahu dari doa yang mana kelak Allah akan mengabulkan doa kita. Bisa jadi bukan dari amal kita, tapi dari kebersihan hati yang mendoakan kita.

Kenapa foto? Ya, itu bonus.

Terlebih lagi, orang lain di social media lebih butuh nasihat dari orang besar, bukan hanya foto diri dengan sosok yang dikagumi. Jika foto bersama hanya mendapatkan like saja, tapi nasihat dari tokoh plus foto akan menyebarkan kebaikan kepada pembaca.

Saat bertemu orang besar, tanyakan juga powerful question. Pertanyaan yang sekiranya menjadi kesan tersendiri bagi yang ditanya dan penanya. Bukan hanya pertanyaan basa basi saja.

Bertanya kabar adalah hal biasa. Coba tanyakan hal lain. Misalkan, “apa nasihat terbaik dari orang terbaik yang pernah Anda dapatkan? Kenapa?”

Suatu hari, Ziyan bertemu dengan Syaikh Ahmad ‘Abbadi, ketua Rabitah Muhammadiyah lil ‘ulama’. MUI versi Maroko. Beliau berpesan:

“Ya bunayya, kamu adalah orang dari suatu negeri yang negeri itu sedang disoroti akan banyak hal. Jika kamu sudah selesai belajar di Maroko, maka pulanglah. Jangan kamu bercita-cita untuk berkarir di tempat kamu belajar. Pulanglah. Karena umat lebih membutuhkanmu.”

Bagaimana dengan Anda? Pesan berkesan apa yang pernah didapatkan? Jika bertemu orang besar, mintalah dua hal berikut: nasihat dan doa. Ada pun foto hanya bonus saja.

Share This

Share This

Share this post with your friends!