Bagaimana Islam mengajarkan pergaulan dengan sesama manusia?

Apakah Islam melarang bergaul dengan non Muslim?

Apakah Islam hanya ekslusif untuk sesama Muslim saja?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin sering terlintas di pikiran. Apalagi dengan banyaknya tuduhan kepada umat Islam dengan narasi-narasi yang menyesatkan seperti intoleran, radikal, hingga anti kebhinekaan. Padahal kalaulah melihat kembali ke sejarah, kontribusi umat Islam ini begitu besar. Tapi kontribusi itu seolah dicoba untuk dikuburkan dengan berbagai cara, lalu ditumpuk dengan narasi-narasi menyesatkan seperti tadi. Pertanyaanya, apakah benar umat Islam intoleran? Atau pertanyaannya lebih sederhana, apakah umat Islam melarang bergaul dengan non Muslim?

Pertanyaan ini sebenarnya bisa dijawab dengan mudah. Tentu kita dengan mudah bisa mengingat rahmatal lil alamin, bukan rahmatil lil muslimin. Islam adalah rahmat semesta alam, bukan hanya sebatas sesama Muslim saja. Maka sudah jelas bahwa Islam pun memberikan aturan pergaulan kita kepada non Muslim. Kita tetap bisa menyapa mereka dengan ramah, saling memberikan hadiah, hingga tolong menolong dalam kebaikan seperti halnya yang kita lakukan dengan sesama Muslim.

Tapi bagaimana dengan ibadah? Apakah kita boleh saling membantu bahkan bergantian satu sama lain?

Kembali sejenak ke sejarah Rasulullah. Rasulullah pernah ditawarkan segalanya oleh orang kafir quraisy untuk menghentikan dakwahnya. Harta, tahta, hingga wanita mereka tawarkan kepada Rasulullah. Bahkan ada juga tawaran untuk saling bergantian ibadah satu sama lain. Sehari beribadah berdasarkan ajaran Islam, hari selanjutnya diganti dengan ritual ibadah menurut kafir quraisy. Jelas Rasulullah menolak tawaran ini. Karena bagaimanapun, aqidah adalah pondasi utama yang tidak bisa dicampur aduk satu sama lain seolah mempromosikan semua agama sama saja.

Sejarah sahabat pun bisa memberikan kita pelajaran. Pada suatu masa Khalifah Umar bin Khattab berhasil membuka dakwah ke Yerusalem, tidak ada satupun gereja yang dihancurkan. Padahal umat Islam memenangkan peperangan saat itu. Umar memastikan umat antar agama menghargai satu sama lain tanpa perlu mencampuradukkan aqidah mereka. Umar mengajarkan arti toleransi yang sesungguhnya.

Kini, kita seolah dibuat bingung dengan definisi toleransi yang dipaksa-paksakan. Toleransi melampaui batas. Sehingga mereka yang tegas dalam mempertahankan aqidah malah dituduh intoleran. Saling merayakan ibadah bersama, menjaga gereja tapi abai dalam menjaga masjid, hingga upaya kerjasama untuk menghancurkan umat Islam itu sendiri. Sebuah tantangan umat yang begitu kompleks di masa kini.

Mari kita maknai ayat berikut.

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.
(QS Al Hujurat: 10)

Coba perhatikan baik-baik. Allah menggunakan redaksi mu’min, bukan hanya Muslim. Tentu ini bukan tanpa makna Allah memilih kata. Allah mengajarkan kita untuk memaknai lebih dalam, bahwa tidak cukup hanya menjadi Muslim, tapi juga menjadi mu’min. Dua tingkatan yang berbeda dengan tantangan yang juga berbeda.

Kita seringkali bangga dengan status bersaudara sebagai Muslim. Tidak salah sebenarnya menghargai persaudaraan sesama Muslim. Tapi menjadi Muslim saja tidak cukup. Bersyadahat dan ibadah ritual saja tidak cukup. Kita butuh naik tingkat menjadi hamba dengan sebenar-benarnya iman. Menjadi mu’min yang takut dengan ancaman Allah, berharap ampuanan Allah, dan mencintai Allah di atas segalanya. Bukan perkara mudah, tapi itulah yang harus kita lewati.

Menjadi mu’min berarti saling mengingatkan dalam kebaikan dan sabar dalam ketaatan. Sehingga kita mampu meluruskan arti toleransi yang kerap salah arti.

Benar kita bersaudara sebagai satu bangsa, tapi iman harusnya mampu menjadi harga tertinggi dalam persaudaraan. Tidakkah kita ingin bertemu kembali ke surga nanti? Insya Allah. Begitulah seharusnya pergaulan kita sesama manusia.

Share This

Share This

Share this post with your friends!