Sebagian dari kita mungkin pernah bertanya, bagaimana hukumnya merangkap dua niat puasa atau lebih dalam satu waktu? Seperti menggabungkan niat puasa senin kamis dengan niat puasa qadha atau puasa syawal misalnya.

Dalam masalah ini para ulama menyebutnya sebagai “At Tadaakhul fil ‘ibaadaat” (saling bercampurnya antara banyak ibadah –yang jenis ,waktu dan sifat amalannya sama) , atau sebagian mereka juga menyebutnya “AtTasyriik fi anniiyah” (Kebersamaan -banyak amalan yang satu jenis, waktu dan sifat- dalam satu niat). Dalil dari kaidah ini adalah berdasarkan pengkajian dan penelitian terhadap dalil-dalil Al Quran dan Hadis.

Kaidah dalam masalah ini adalah “Jika dua amalan ibadah berasal dari jenis yang sama, sifat atau cara amalannya sama, dan waktu pelaksanaanya juga sama, maka keduanya bisa dilakukan dengan hanya melakukan satu amalan saja”. Ini merupakan cabang dari salah satu kaidah utama dalam Kaidah Fiqh; “Al-Umuur bi Maqaashiidihaa” (suatu perkara –baik berupa amalan atau ucapan- tergantung pada tujuannya –atau niatnya-).

Ibnu Rajab –rahimahullah- berkata (Al-Qawaa’id fil Fiqh: hal.23)

Jika dua ibadah dari jenis yang sama berkumpul dalam waktu yang sama, yang mana salah satunya tidak dilakukan sebagai qadha atau sebagai tab’iyyah/ibadah yang mengikuti ibadah lainnya dalam waktu (seperti rawaatib), maka amalan-amalan keduanya saling berkaitan sehingga cukup melakukan keduanya dengan satu amalan saja.

Syaikh AbdurRahman AsSa’di rahimahullah berkata (AlQawaa’id Wal-ushul Al-Jami’ah (90):

Jika dua ibadah dari jenis yang sama berkumpul, maka amalan-amalan keduanya saling berkaitan, sehingga cukup melakukan keduanya dengan satu amalan saja jika maksud kedua ibadah tersebut sama.

Dalam Al Asybaah Wa An-Nadzhoir (1/208), Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah juga berkata:

Jika dua perkara ibadah dari jenis yang sama berkumpul ,sedangkan maksud dari keduanya tidaklah berbeda, maka kebanyakan amalan salah satunya masuk kedalam amalan lainnya.

Ada juga pendapat lain yang menyatakan: Tidak boleh menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunah lainnya. Sebagaimana tidak boleh menggabungkan niat ketika puasa ramadhan dengan puasa sunah lainnya.

Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

Orang yang melaksanakan puasa wajib, baik qadha ramadhan, puasa kaffarah, atau puasa lainnya, tidak sah untuk digabungkan niatnya dengan puasa sunah. Karena masing-masing, baik puasa wajib maupun puasa sunah, keduanya adalah ibadah yang harus dikerjakan sendiri-sendiri. Dan puasa sunah bukan turunan dari puasa wajib. Sehingga tidak boleh digabungkan niatnya.
(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 7273)

Pendapat lain yang membolehkan menggabungkan niat puasa sunah dan puasa wajib, selama puasa sunah itu tidak memiliki kaitan dengan puasa wajib. Seperti kata pendapat Imam Ibunu Utsaimin yang menyatakan:

Orang yang melakukan puasa hari arafah, atau puasa hari asyura, dan dia punya tanggungan qadha ramadhan, maka puasanya sah. Dan jika dia meniatkan puasa pada hari itu sekaligus qadha ramadhan, maka dia mendapatkan dua pahala: (1) Pahala puasa arafah, atau pahala puasa Asyura, dan (2) Pahala puasa qadha. Ini untuk puasa sunah mutlak, yang tidak ada hubungannya dengan ramadhan.
(Fatawa as-Shiyam, 438)

Kesimpulannya, bahwsanya ada beberapa pendapat yang menyatakan boleh dan tidak boleh. Namun, menurut saya lebih cenderung dengan pendapat yang membolehkan menggabungkan niat puasa. Allahu a’lam.

Share This

Share This

Share this post with your friends!