Jika mendengar kata hijrah, apa makna pertama yang muncul dalam pikiranmu?

Setiap orang punya banyak pendapat atas suatu hal. Termasuk dalam konteks memaknai hijrah. Apalagi kata hijrah semakin tren sekarang. Di suatu sisi, tentu kita perlu mensyukuri fenomena ini. Alhamdullillah, semakin banyak orang yang melek untuk belajar agama dan menjadi lebih baik. Tapi apakah sebenarnya arti hijrah?

Artikel ini tidak akan mendefinisikan secara detail. Tapi izinkan melalui tulisan ini mampu menjadi jembatan penghubung agar kita sama-sama tergerak untuk menjadi lebih baik.

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat’. Meninggalkan, bisa dengan meninggalkan maksiat yang selama ini terbiasa dilakukan. Menjauhkan, bisa dengan menjauhkan diri dari teman-teman yang selama ini mengajak kepada keburukan. Berpindah tempat, bisa dengan berpindah secara fisik dari lingkungan buruk ke lingkungan yang baik.

Jika kita melihat sejarah, hijrah bisa kita maknai dengan perpindahan Rasulullah SAW bersama para sahabat menuju Madinah sebagai tempat yang dituju, dari Mekkah sebagai tempat yang ditinggalkan. Apa tujuan hijrah dari Rasulullah SAW dan sahabat? Mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syariat Islam. Karena di Mekkah yang menjadi tempat kelahiran Rasulullah SAW sudah begitu sulit, bahkan hingga disiksa, maka berpindah adalah solusi terbaik yang diambil.

Ada dua elemen penting untuk memaknai hijrah.

  1. Sesuatu yang ditinggalkan
  2. Sesuatu yang dituju

Sesuatu yang ditinggalkan. Apa sebenarnya yang kita tinggalkan? Adakah maksiat mulai kita tinggalkan? Adakah pertemanan buruk mulai kita tinggalkan?

Sesuatu yang dituju. Apa yang kita tuju? Mau ke mana kita? Bagaimana bisa kita hijrah jika tidak tahu mau ke mana?

Dalam proses hijrah, pasti banyak kisah. Dan tentu, setiap orang punya kisahnya masing-masing. Setiap kisah pun pasti punya banyak hikmah.

Ada pemuda yang hijrah karena ingin mendapatkan istri yang shalihah. Salahkah?

Ada pengusaha yang hijrah agar lebih banyak mendapatkan keuntungan di lingkungan yang baru. Salahkah?

Ada preman yang hijrah agar bisa berbagi pengalaman masa lalu sehingga tidak perlu ada lagi orang yang merasakan apa yang dia alami. Salahkah?

Mari kita tadabburi pesan Allah berikut.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al-Baqarah: 218)

Ada banyak pesan yang bisa kita gali. Salah satu yang terpenting, tujuan hijrah adalah mengharapkan rahmat Allah.

Atas banyak pertanyaan yang disebutkan tadi, mungkin kita tidak bisa secara langsung menilai apakah yang dilakukan salah atau benar. Kita hanya perlu jujur untuk menilai, adakah hijrah kita untuk mendapatkan rahmat Allah?

Bisa jadi, kita sekarang dengan mudah berkata,

“Aku hijrah karena Allah kok.”

Bagus jika sudah berpendapat seperti demikian. Tapi tentu pernyataan butuh dibuktikan. Karena hijrah bukanlah berubah secara tiba-tiba saja. Ada proses panjang yang kelak akan dilewati. Bisa jadi sekarang dengan yakin mengatakan sudah hijrah. Tapi jika nanti ada tantangan di depan, lalu kembali lagi ke kebiasaan masa lalu yang mana hal tersebut adalah maksiat, apakah hijrahnya sudah berhasil? Belum tentu.

Karena itulah dalam hijrah butuh teman untuk membersamai. Teman yang bisa saling mengingatkan dan menguatkan. Butuh juga guru yang bisa mengarahkan kita. Sehingga tidak mudah futur dan saling menuduh. Dan tentu, hal yang paling penting, mengharapkan rahmat Allah.

Selamat memaknai proses hijrah!

Share This

Share This

Share this post with your friends!