Hujan kembali datang, mengguyur sebagian belahan bumi dan membasahi sebagian daerah tanpa bisa dibendung air yang turun begitu saja dari atas langit sana.

Hujan sering dianalogikan dengan banyak hal, tergantung dari sudut pandang seseorang. Sebagian ada yang begitu senang saat turunnya hujan, sebagian lagi tidak. Terlebih lagi di kota-kota dengan dataran yang rendah, hujan sering kali menjadi sebuah kambing hitam ketika terjadinya sebuah bencana seperti banjir misalnya. Contohnya kota Jakarta, sudah tak asing lagi jika musim hujan tiba kota ini selalu terendam banjir dan tak sedikit orang mengeluhkan hal itu. Di saat seperti itu, orang cenderung menyalahkan hujan. Hampir seluruh berita di media bergema menyebut kata “hujan” menjadi sebab terjadinya musibah banjir.

Padahal, tak seharusnya kita menjadikan hujan sebagai penyebab utama terjadinya musibah. Karena seharusnya hujan merupakan sebuah keberkahan dari Allah Swt kepada umat-Nya, yang mesti kita syukuri sebagai bentuk nikmat dari Allah Swt. Karena hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Dia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat, tidak hanya bagi manusia, melainkan semua makhluk hidup.

Hujan juga memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia. Hal tersebut disampaikan di dalam Al-Quran. Salah satunya pada surat Az – Zukhruf, Allah memberikan informasi bahwa hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam ukuran tertentu.

Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).
(QS. Az-Zukhruf: 11)

Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat disaat diperlukan oleh seluruh makhluk. Allah pula menurunkan hujan agar banyak orang mendapat kegembiraan setelah bertahun-tahun hampir putus asa menunggu. Karena itu, Al-Quran menyebut hujan sebagai rahmat dan berkah, bukan musibah.

Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.
(QS. Asy-Syuura: 28)

Dengan mengirim hujan-lah, Allah menyuburkan tanaman-tanaman yang dibutuhkan manusia dan semua mahkluk yang hidup di bumi, menumbukan pepohonan dan buah-buahan dan biji tanaman yang dibutuhkan manusia.

Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.
(QS. Qaaf: 9)

Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat memerlukannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
(QS. Al Anbiya’: 30)

Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.”

Lantas, sikap yang seharusnya kita lakukan ketika hujan datang adalah bersyukur, mensyukuri atas nikmat-Nya. Dan sebaiknya kita selalu berdoa, dan salah satu doa ketika datangnya hujan adalah.

Allâhumma shayyiban haniyyâ wa sayyiban nâfi‘â.

Artinya, “Wahai Tuhanku, jadikan ini hujan terpuji kesudahannya dan menjadi aliran air yang bermanfaat.”

Dalam artikel Doa Ketika Turun Hujan oleh Alhafiz K dituliskan, turunnya hujan mesti disyukuri sebagai bagian dari nikmat. Hanya saja kita harus memohon kepada-Nya agar hujan itu menambah berkah bagi sawah dan ladang petani, membawa hanyut debu jalanan di kota-kota dan di desa, dan membawa rezeki dengan segala bentuknya bagi semesta penduduk bumi.

Demikianlah keberkahan dan doa ketika hujan datang.

Share This

Share This

Share this post with your friends!