Ada banyak lelucon tentang ibadah umat Islam yang dilaksanakan sekali setahun ini. Lelucon yang sebenarnya menyindir, tapi masuk akal. Misalkan gambar ini.

Postingan ini didapatkan di akun Instagram Ustadz @luqmanulhakimpontianak. Asatidz yang menggerakkan Pesantren Munzalan Mubarakan di Pontianak. Bukan hanya beliau, banyak asatidz lain yang memancing, atau bahkan orang awam yang juga menyentil. Kenapa sepeda mahal terbeli tapi qurban yang harganya tidak seberapa tidak terbeli? Apalagi melihat budaya terkini di masa pandemi yang membuat banyak orang berpindah ke transportasi sepeda, tapi kurang bijak dalam membelanjakannya. Sepeda mahal terbeli, tapi lupa sebentar lagi qurban, tapi biayanya tidak dianggarkan. Hingga akhirnya alasannya masih sama dari tahun ke tahun. Nggak punya uang. Atau alasan pembenaran lain, “kan qurban nggak wajib.”

Selain sepeda, ada biaya lain yang tanpa sadar telah menghabiskan potensi tabungan qurban. Apa itu? Rokok.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dihelat oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), proporsi perokok di Indonesia masih sebanyak 29,3%. Sedangkan rata-rata jumlah rokok yang diisap oleh penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas adalah 12,3 batang per orang per hari, atau setara dengan satu bungkus rokok. (Health.detik.com)

Anggap saja harga rokok 20 ribu sebungkus. Dalam setahun ada 365 hari. Jika dijumlahkan, maka uang yang dibakar untuk membeli rokok setiap tahunnya adalah 7.300.000. Cukup untuk membeli 2 ekor kambing super dalam ibadah qurban.

Bagi sebagian orang yang sudah adiktif dengan kebiasaan tertentu, merokok misalkan, mungkin sulit untuk meninggalkannya. Tapi ingat, sulit bukan berarti tidak bisa loh ya. Jika ada niat yang kuat, Allah pasti memberikan jalan.

Menabung adalah kunci. Menabung dalam nominal tertentu dalam durasi tertentu. Misalkan angka 20.000 per hari untuk sebungkus rokok. Dalam setahun bisa dikonversikan menjadi kambing super. Dan menabung ada baiknya dimulai sejak usia dini. Setidaknya usia sekolah. Kenapa? Jawabannya sederhana saja. Kelak kebiasaan itu akan terbawa di masa depan.

Berapa uang jajan anak sekolahan pada umumnya setiap hari? Anggap saja 10.000. Jika menyisihkan 2.000 per hari saja, maka setiap tahunnya dia bisa menabung 730.000. Kurang 1.270.000 lagi untuk kambing qurban harga standar. Apa yang bisa dilakukan? Banyak hal. Mulai dari menyisihkan uang THR yang didapatkan di Idulfitri. Bisa juga dengan berjualan atau bekerja sampingan.

Menambah penghasilan adalah kunci agar qurban tercapai. Tapi menabung adalah kunci yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena nyatanya, banyak tabungan yang bocor karena keinginan nafsu untuk membeli yang tidak terlalu penting. Dan itulah esensi dari ibadah qurban. Salah satu hikmah yang ingin Allah ajarkan kepada kita adalah memotong sifat “kebinatangan” dalam diri manusia. Boros adalah salah satunya.

Menambah penghasilan dan menabung saling melengkapi. Salah satu kunci penting lain adalah niat yang kuat. Kenapa niat? Karena niatlah yang akan menentukan kita. Bukankah setiap amalan dinilai dari niat?

Coba renungkan. Bagaimana bisa tukang bubur naik haji? Bagaimana bisa pemulung bisa berqurban? Banyak kisah tidak logis lain bisa kita temukan di internet. Kisah yang mengajarkan kita bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan logika. Termasuk dalam perihal kemampuan ibadah. Dan niatlah yang membantu setiap hamba untuk mencapai tujuannya. Tujuan yang membuat Allah ridho dalam setiap usaha hamba. Sehingga Allah akan membantu dengan cara-Nya yang begitu indah.

Yuk bangun kebiasaan nabung sejak dini. Ajarkan anak berqurban, berikan keteladanan dengan menjauhkan diri dari sifat “kebinatangan”.

Share This

Share This

Share this post with your friends!