Seringkali ada orang yang bertanya,

“Sabar itu ada batasnya nggak sih?”

Orang dengan kondisi hati yang sedang tidak baik-baik saja biasanya berkata:

“Kesabaranku selama ini sudah kelewat batas. Aku sudah nggak sabar lagi.”

Lantas sebenarnya bagaimana? Adakah batas dalam sabar?

Setiap orang pasti punya masalah di dunia ini. Beda orang, beda pula masalah yang dihadapi. Satu orang tidak mungkin bisa mengatasi masalahnya sendiri. Karena itulah butuh teman yang terbuka untuk berdiskusi. Boleh dikatakan curhat. Bahkan di sebuah acara kajian di televisi, ada taglinenya sendiri, “curhat dong maah”.

Curhat atau diskusi. Wadah yang dibutukan bagi orang beriman untuk merealisasikan imannya. Begitulah Allah berpesan.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya tetap di atas kesabaran.
(QS. Al-’Ashr: 1-3)

Maknai pelan-pelan, khususnya di ayat yang terakhir. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihat supaya tetap di atas kesabaran. Maka kita, sebagai makhluk sosial butuh teman yang bisa mengingatkan sekaligus menguatkan. Tentu bukan hanya mengingatkan dengan kata yang begitu manis saja. Karena tidak selamanya orang butuh untuk dinasihati. Seringkali orang lebih butuh untuk didengar. Maka perhatikan juga kondisi seseorang yang diajak berbicara saat ingin menasihati. Apakah dia butuh didengar saja atau butuh nasihat?

Kita butuh teman agar dikuatkan dalam kesabaran. Selain itu ada senjata ampuh lain yang harusnya sudah sama-sama kita ketahui.

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(QS. Al-Baqarah: 153)

Siapa yang menolong? Allah langsung yang menolong melalui perantara shalat. Allah juga menegaskan, bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Dalam suatu kajian tadabbur surah Al-Fatihah, Ustadz Amir Faishol berpesan tentang bagaimana kita seharusnya “rabbul ‘alamin.”

Kenapa kita butuh Allah? Karena Allah adalah rabbul ‘alamin. Tenangnya orang beriman karena merasakan dan meyakini kebersamaan dengan rabbul ‘alamin.

Allah adalah rabbul ‘alamin. Pencipta dan pemilik alam semesta. Lantas jika kita sudah bersama pencipta dan pemilik alam semesta, apa yang kita ragukan? Apa yang kita takutkan? Apa yang kita khawatirkan? Seharusnya tidak ada lagi. Seharusnya begitu.

Karena itu kembali lagi bahwa penting bagi kita untuk memaknai sabar secara lebih dalam. Termasuk sabar dalam shalat.

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
(QS. Thaha: 132)

Allah berpesan agar kita bukan hanya mengerjakan shalat saja. Tapi juga bersabar dalam mengerjakan shalat tersebut. Agar kita bisa memaknai doa demi doa dalam shalat, tentu wajib bagi kita untuk tahu apa arti yang selama ini kita ucapkan. Jika belum tahu, maka segeralah cari tahu. Agar shalat kita bisa menjadi energi yang menguatkan. Agar shalat adalah bentuk pertemuan yang kita nantikan bersama Allah.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(QS. Al-Baqarah: 155)

Allah bersama orang yang sabar. Tapi seringkali kita tidak merasakan Allah dalam proses penantian. Kalau begini, apa yang salah? Bisa jadi karena kita tidak yakin dengan pertolongan Allah. Bisa jadi juga karena shalat kita yang belum sempurna. Atau bisa jadi karena mindset kita yang sudah mengatakan “sabarku ada batasnya”.

Selamat memaknai, Allah bersama orang yang sabar.

Share This

Share This

Share this post with your friends!