“Kenapa saya mengajar, karena saya harus mengajar anak saya. Maka ketika kami diberikan berkah seorang putri, maka saya komit harus membantu dia dalam belajar.”
@TeacherAndri – Guru Matematika, Ibu Seorang Putri
Guru matematika yang menulis. Namanya Febriandrini. Dia sudah menulis buku. Salah satunya adalah Evolusi Guru dan Sekolah Abad 21. Sekitar bulan April 2018, dia pernah ikut tantangan 30 Days Writing Challenge melalui akun Instagramnya @TeacherAndri. Di akun tersebut, dia menuliskan matematika dalam narasi sederhana. Beberapa contoh tulisannya bisa dibaca di @mathlinked
Pesan pembukanya begitu menarik. Sebuah alasan kenapa memulai profesi sebagai guru di sekolah, bukan hanya untuk mengajar anaknya di rumah. Sebuah alasan yang menjadi kekuatan, bukan sebagai pembenaran. Apa bedanya?
Contoh alasan sebagai pembenaran, “saya tidak bisa mengajar anak saya karena saya bukan lulusan keguruan.” Wah, kaitannya apa ya? Kalau alasannya begitu, maka yang bisa mengajar hanya lulusan keguruan dong? Bagaimana dengan homeschooling? Orangtua yang mengajarnya bahkan bukan lulusan keguruan. Tapi sosok yang punya kemauan untuk belajar dan mengajar.
Contoh alasan sebagai kekuatan, “saya menjadi guru karena ingin melayani.” Begitu alasan sederhana dari Teacher Andri.
Matematika kerapkali dianggap sebagai momok tersendiri bagi anak-anak. Bukan hanya matematika. Segala pelajaran yang berhubungan dengan angka pun begitu. Misalkan kimia, fisika, kalkulus, dan berbagai pelajaran lainnya. Kenapa menjadi momok? Bisa jadi karena trauma tersendiri. Padahal matematika adalah bahasa yang perlu dibiasakan. Begitu kata Teacher Andri.
Ada 4 tips dari Teacher Andri tentang bagaimana caranya mengubah angka menjadi cerita. Tips ini sudah disampaikan juga sebelumnya di insight Instagram live.
1. Start With Why dari Dua Sisi
Seorang guru harus bisa memahami kenapa suatu teori penting untuk dipelajari sehingga lebih mudah bagi murid untuk memahami. Selain itu, seorang guru juga harus tahu pandangan dari murid akan suatu teori itu seperti apa. Sehingga guru bisa mendapatan perspektif yang lebih luas sebagai bahan pembelajaran.
2. Ajak Murid Bercerita
Lah, kok matematika mengajak murid bercerita? Bukannya menghitung ya? Iya dasarnya emang menghitung. Tapi pendekatannya bisa dengan bercerita. Misalkan: 1 + 3 = 4. Secara hitungan begitu. Tapi secara cerita, anak bisa menjelaskan “saya punya 1 kue, ibu menambahkan 3 kue. Totalnya, saya punya 4 kue.”
3. Beyond The Symbol
Masih berkaitan dengan memahami teori dan start with why. Bahwa sesungguhnya ada suatu hal yang menarik dibalik sebuah simbol dan teori saja. Nah, tugas kitalah yang menguliknya. Khususnya lagi guru yang mengajar. Misalkan, ternyata rumus pangkat positif itu seperti pahala dan pangkat negatif seperti korupsi. Nah, terbayang?
4. Don’t Just Learn by Procedure, But Learn and Explore
Seorang guru jangan hanya belajar dan mengajar terpaku pada kurikulum dan prosedur. Memang hal itu penting. Tapi jika sebatas itu, kaku sekali rasanya. Let’s explore. Ada banyak cara menarik untuk mengajar dan inspirasi di balik teori. Tidak cukup jadi guru biasa, jadilah guru yang memberikan makna.
Matematika bukan hanya angka, tapi bahasa yang memberikan makna. Ketika Teacher Andri ditanya, apa mimpinya dengan matematika, beliau menjawab:
“Semoga mathlink bisa menghadirkan matematika yang bermakna. Karena kami merasakan sulitnya menemukan guru yang bisa mengajarkan why.”
Selengkapnya tentang mathlink bisa telusuri di mathlinked.org
Bagaimana dengan Anda? Adakah terobosan sendiri sebagai guru, angka, dan matematika?