Generasi para sahabat nabi adalah generasi yang terbaik. Salah satu alasannya adalah karena generasi ini bisa bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan mendapatkan pengajaran langsung dari beliau. Dengan begitu, mereka bisa bertanya dan bahkan melihat secara langsung bagaimana perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam.

Di samping itu, mereka juga merupakan generasi Islam pertama. Yang memilih Islam sebagai agama atas keinginan sendiri. Dan tetap memilih Islam meskipun mendapatkan ujian yang teramat berat. Tidak heran jika para sahabat begitu menghayati Islam dan mencintai al-Quran yang merupakan kitab suci umat Islam.

Namun, meskipun kita tidak hidup di zaman para sahabat, kita tetap dapat meneladani sifat – sifat para sahabat. Termasuk meneladani sikap yang dimiliki para sahabat terhadap al-Quran. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Pandangan yang Menyeluruh

Para sahabat nabi Muhammad memiliki pandangan yang menyeluruh terhadap ayat al-Qur’an. Mereka senantiasa merenungi setiap ayat – ayat al-Qur’an yang turun dan mentadabburinya. Pandangan yang menyeluruh terhadap ayat al-Quran ini juga didapatkan dari metode interaksi antara sahabat dengan al-Quran yang memadukan antara ilmu dan amal.

Untuk mengikuti sikap para sahabat dalam hal ini, kita bisa memulai dengan mencoba melakukan tilawah dan tadabbur al-Quran. Proses tadabbur ini bisa dibantu dengan membaca tafsir – tafsir al-Quran yang mu’tabar. Bukan sekedar mengandalkan terjemah lafdziyah saja. Kemudian, perenungan ini dilanjutkan dengan mengambil kesimpulan yang berasal dari ulama yang kompeten sebagai rujukan.

2. Bersih dari Pemahaman yang Menyimpang

Salah satu hambatan dalam memahami al-Qur’an adalah hati yang terkotori dengan kotoran hati. Yaitu maksiat dan penyakit hati lainnya. Karena itu, saat menerima pengajaran al-Quran, para sahabat berupaya membersihkan hatinya terlebih dahulu dari berbagai noda dan kotoran yang mereka lakukan semasa jahiliyahnya.

Para sahabat menempatkan al-Quran sebagai satu – satunya landasan kehidupan. Awal dan hidup baru yang berbeda sama sekali dari apa yang mereka lakukan sebelumnya. Karena itu, interaksi para sahabat dengan al-Quran mampu mengubah total lingkungan, kebiasaan, adat, wawasan, ideologi, dan juga pergaulannya.

3. Kepercayaan yang Mutlak

Para sahabat memiliki keyakinan yang penuh pada setiap ayat yang diterima. Mereka menempatkan perintah Allah sebagaimana perintah yang diberikan komandan kepada prajuritnya. Karena itu, mereka menerapkan setiap perintah Allah secara langsung dalam kehidupan sehari – harinya.

Para sahabat tidak menganggap al-Quran hanya sekedar rujukan untuk menyingkap rahasia alam, sains, atau materi ilmiah saja. Karena Al-Quran bagi mereka bukanlah buku seni, sains, atau sejarah. Meskipun ayat – ayat al-Quran juga mencakup semua hal tersebut. Lebih dari itu, al-Quran merupakan pedoman hidup yang diturunkan untuk manusia.

4. Merasa Bahwa Ayat yang Dibaca Ditujukan Kepadanya

Sikap lainnya yang dimiliki sahabat dalam mempelajari al-Quran adalah senantiasa merasa bahwa ayat yang dibaca ditujukan untuknya. Para sahabat melihat al-Quran sebagai surat dari Tuhan untuk mereka. Karena itulah mereka selalu merenungkannya setiap malam dan meninjaunya setiap siang.

Salah satu contohnya adalah kisah Tsabit bin Ibnu Qais. Saat turun surat Al-Hujurat yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.”
QS. Al-Hujurat: 2

Rasulullah SAW mencari Tsabut bin Ibnu Qais yang tidak terlihat hari itu. Kemudian, salah satu sahabat mencarinya hingga ke rumah Tsabit bin Ibnu Qais. Di sana, Tsabit tampak bersedih dan dalam keadaan buruk. Dia mengira bahwa surat yang turun tersebut ditujukan untuk menegurnya karena dia pernah bicara dengan suara keras kepada Nabi Muhammad SAW.

Itulah sikap para sahabat Nabi terhadap Al-Quran. Sikap ini seringkali terlupa oleh generasi Islam selanjutnya. Dr. Muhammad Al-Ghazali pernah berkata,

Generasi pertama terangkat kemuliaannya karena menempatkan Al-Qur’an di atas segala-galanya. Sedangkan generasi sekarang jatuh kemuliaannya karena menempatkan Alquran di bawah nafsu dan kehendak dirinya.”

Share This

Share This

Share this post with your friends!