Pepatah lama mengatakan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Maka selama hidup, bukit apa yang sudah kita bangun? Apakah bukit yang bernilai amal ibadah atau malah sebaliknya, bukit yang bernilai dosa? Wah, apa maksudnya bukit dosa dan bukit ibadah.

Contoh sederhana yang bisa digambarkan adalah dalam memaknai fenomena qurban. Bukit amal dilihat dari ikhtiar menabung dengan segala keterbatasan agar kelak di hari raya Iduladha turut serta memberikan qurban terbaik. Menabung setiap harinya, menyisihkan dari sebagian gajinya, bahkan menambah porsi kerjanya agar kelak Allah nilai ikhtiarnya sebagai ibadah terbaik pula.

Bukit yang bernilai dosa bisa dilihat dari fenomena yang tidak jauh berbeda, tapi bisa dihubungkan. Apa itu? Merokok. Anggap saja seseorang menghabiskan satu bungkus rokok setiap harinya dengan harga 20.000. Maka setiap tahunnya dia sudah membakar 7.300.000. Inilah bukit dosa yang dimaksud. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Kita tidak perlu mendebat pro kontra para ulama terkait rokok. Karena nyatanya, ulama memiliki dua pendapat utama, haram dan makruh. Tidak ada yang berpendapat halal dengan segala kebenarannya. Karena pertimbangannya bukan hanya pemborosan harta saja, tapi juga menabung penyakit dalam diri. Belum lagi dosa menzalimi orang sekitar yang tidak menyukai asap rokok.

Kembai lagi ke narasi awal. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Bukit apa yang akan kita bangun setiap harinya?

Dalam sehari, setiap dari kita Allah titipkan waktu yang sama, 24 jam. Sebagian ada yang punya pola rutin. Anggap saja pembagiannya seperti berikut:

Tidur 7 jam. Kerja 8 jam. Makan 1 jam. Waktu di perjalanan 1 jam.  Ibadah wajib 1 jam Family time 2 jam.

Dari beberapa aktivitas tersebut, jika ditotalkan sudah mencapai 22 jam. 2 jam lagi, apa yang dilakukan?

Sekali lagi, perhitungan di atas hanyalah hitungan kasar saja. Karena setiap orang pasti punya pola hidup yang berbeda. Mari melihat esensinya saja. Tentang membangun bukit, apa yang sudah kita lakukan di “waktu sisa”?

Sebagian mungkin ada yang menghabiskan waktu untuk ngegame, hobi, olahraga, dan aktivitas lainnya. Tapi sudahkah kita menginvestasikan waktu setiap hari untuk suatu hal yang pasti bermanfaat di masa depan? Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan adalah: membaca buku, menambah hafalan Quran, menonton kajian, hingga mendalami hobi yang bermanfaat.

Anggap saja kita membangun bukit setiap harinya dengan menginvestasikan waktu 30 menit saja. Anggaplah waktu itu 30 menit sebelum tidur. Aktivitas apa yang dilakukan? Contoh menulis. Jika 30 menit bisa menghasilkan 1 halaman, maka dalam 365 hari kita sudah menulis 365 halaman dengan investasi waktu 10.950 menit.

Coba hitung aktivitas lainnya.

Menambah 1 ayat hafalan. Berarti dalam setahun ada tambahan 365 ayat. Jika dalam Al-quran ada 6236 ayat, maka kita “hanya” perlu waktu 17,08 tahun untuk menghafal Al-Quran. Sedangkan Allah menurunkan Al-Quran kepada Rasulullah dalam durasi waktu 22 tahun. Secara durasi, sebagai umat Rasulullah kita harusya bisa lebih cepat menghafal. Secara pemahaman, tentu tidak akan pernah mampu.

Hitung lagi saja 30 menit yang kita gunakan setiap harinya. Bisa bikin apa? Bayangkan, ada potensi waktu 10.950 menit yang bisa kita manfaatkan dari “waktu sisa”. Akankah menjadi bukit ibadah atau bukit dosa? Pertanyaan ini akan terjawab sendirinya saat kita bisa memaknai waktu dengan sebijak mungkin. Bukankah Allah sudah bersumpah “Demi masa” dalam QS Al-Asr? Ya, kita sendirilah yang menentukan akan membangun dalam 30 menit di setiap harinya.

30 menit bisa bikin apa? Ya tergantung kita.

Share This

Share This

Share this post with your friends!