Ramadan sudah terlewati. Apakah semangat beribadah pun terhenti?
Sebuah kewajaran jika di Ramadan setiap dari kita meningkatkan ibadahnya. Bagaimana tidak, di masa yang terbatas ini nilai ibadah kita dilipatgandakan. Memanfaatkan kesempatan emas ini tentunya sebuah keharusan. Walaupun bagi sebagian orang hanya menjadi pilihan. Ya, apa pun pilihannya, kembali lagi ke kita. Allah tidak dirugikan sedikit pun atas apa yang kita perbuat.
Tapi bagaimana jika usai Ramadan semangat beribadah menurun. Wajarkah?
Ada sebuah perumpamaan menarik yang disampaikan oleh Ustadz Akmal Sjafril dalam bukunya Wujudkan Ramadan Terbaikmu.
Yang namanya taqwa tentu bukan di bulan Ramadhan saja, meski memag benar juga bila dikatakan bahwa tidak ada bulan lain yang seperti bulan Ramadhan. Bulan suci Ramadhan memang sangat spesial dan amal ibadah kita mencapai klimaksnya di bulan ini. Akan tetapi, selepas Ramadhan, bukan berarti kita kembali kepada keadaan semula begitu saja. Idealnya, ada perubahan yang permanen dalam diri kita selepas Ramadhan, meskipun ibadah kita sudah tidak sama intensnya dengan di bulan Ramadhan.
Meskipun antiklimaks itu wajar, tapi yang pertama harus dihindari adalah kondisi ‘terjun bebas’. Keadaan kita di bulan Syawal memang tidak sama dengan di bulan Ramadhan, tapi mbok ya jangan beda-beda amat. Oleh karena itu, ‘menginjak rem’ di bulan Syawal sangat penting agar kita tidak kebablasan di ‘jalan menurun’ ini.
Cukup jelas perumpamaan yang disampaikan beliau di bab “Sepeninggal Ramadhan”. Karena memang benar bulan lain tidak akan persis sama dengan bulan Ramadan. Tapi bukan berarti kita harus mengabaikan bulan lain begitu saja. Jangan terjun bebas. Tetap ngegas walaupun tidak tancap gas.
Lalu, apa yang harus kita lakukan seusai Ramadan?
1. Bikin Evaluasi
Menjejang akhir Ramadan atau di awal Syawal, coba jeda waktu sejenak untuk ME TIME dengan diri sendiri. Evaluasi prestasi Ramadan kali ini. Apakah sudah tercapai sesuai target atau belum? Atau jangan-jangan memang tidak ada target apa-apa di Ramadan tahun ini? Jika memang tidak ada, maka jadikan hal tersebut sebagai evaluasi tahun depan. Pastikan tahun depan ada target terukur yang harus dicapai.
Apa saja yang bisa dievaluasi? Bisa sesuaikan dengan kebutuhan pribadi. Misalkan shalat berjamaah termasuk berbagai shalat sunnah seperti rawatib, duha, tahajud, tarawih hingga witir. Bisa juga evaluasi sedekah, kajian ilmu, hingga tingkat “kesempurnaan” puasa setiap harinya.
Jika tahun ini sudah dievaluasi, harapannya tahun depan bisa lebih baik. Semoga.
2. Pencapaian Pasca Ramadan
Bisa dimaklumi bahwa tingkat ibadah kita di bulan setelah Ramadan tidak akan persis sama dengan Ramadan itu sendiri. Tapi jangan sampai terjun bebas sehingga hilang semua amal ibadah di bulan Ramadan. Yang dulunya shalat tahajud 8 rakaat, ya jangan sampai usai Ramadan tidak shalat tahajud sama sekali. Setidaknya 2-4 rakaat bisa lah.
Termasuk puasa. Jika di bulan Ramadan puasa setiap hari, ya jangan sampai di bulan lainnya tidak ada puasa sunnah sama sekali. Bahkan di bulan Syawal pun ada anjuran untuk puasa 6 hari yang jika dikerjakan bisa melengkapi seperti berpuasa setahun penuh. Ada juga puasa Senin Kamis, puasa Daud, hingga puasa Ayyamul Bidh yang dikerjakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.
Ramadan boleh berlalu, tapi semangat ibadah jangan berlalu. Boleh jeda, tapi jangan hilang begitu saja. Pertahankan semangat agar ada bekas Ramadan setiap tahunnya. Kelak, semoga Allah pertemukan kita dengan Ramadan tahun depan dengan kondisi yang jauh lebih baik. Aamiin.