Merawat badan kita agar senantiasa sehat memerlukan banyak cara dan trik. Bukan hanya rutin olah raga, tetapi kita juga perlu menjaga asupan makanan yang dikonsumsi. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal bahwa ada makanan-makanan yang memiliki kandungan baik, tetapi ada pula makanan yang memiliki kandungan berlebihan dan tidak diperlukan oleh badan. Selain soal baik dan tidaknya suatu makanan, manusia juga memiliki ketertarikan berbeda-beda dalam mengonsumsi sesuatu. Ada yang gemar makan sayur, tetapi ada juga yang betul-betul tidak suka atau bahkan tidak bisa mengonsumsi sayur. Sayangnya, ketidaksukaan tersebut secara tidak sadar sering membuat kita mencela suatu makanan.
Rasulullah memberikan contoh atau teladan tentang cara bersikap kepada makanan. Dalam sebuah riwayat hadits dijelaskan bahwa Rasulullah tidak pernah sekalipun menghina atau mencela makanan.
“Rasulullah SAW tidak pernah sekalipun menghina makanan. Jika beliau suka, beliau akan memakannya, dan jika beliau tidak suka, beliau akan meninggalkannya (tanpa mencela)”
(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
Larangan mencela makanan dalam Islam sebetulnya bukan hanya soal akhlaq terhadap sesuatu, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran soal nikmat Allah yang begitu banyak. Pada dasarnya, makanan merupakan salah satu nikmat dari Allah yang wajib disyukuri. Saat kita lebih memilih untuk mencela makanan, itu berarti kita mengabaikan nikmat yang Allah berikan dan cenderung kufur nikmat. Kita tentu sadar bahwa terhidangnya sebuah makanan pasti melewati proses panjang. Saat kita mencelanya, artinya kita tidak mau menghargai proses yang telah terjadi.
Tanpa kita sadari, saat kita mencela makanan maka secara tak langsung kita abai dalam menghargai orang lain. Padahal dengan jelas nabi mengatakan bahwa orang yang beliau cintai adalah orang yang menghargai orang lain, seperti sabdanya dalam sebuah hadits:
أَحَبُّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبُكُمْ مِنِّي مَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَسَاوِيكُمْ أَخْلَاقًا الثَّرْثَارُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ
Orang yang paling saya cintai dan yang paling dekat denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling saya benci dan paling jauh denganku (kelak di akhirat) adalah orang yang paling buruk akhlaknya. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan suka mencaci maki orang lain dengan kata-katanya.
(HR. Ahmad No 17077)
Lantas bagaimana saat Rasulullah berhadapan dengan makanan yang tidak beliau sukai? Rasulullah juga bersabda tentang hal tersebut:
كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ
Kalau beliau menyukainya, maka akan beliau makan. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.
[HR al-Bukhâri dan Muslim].
Dalam riwayat-riwayat tersebut jelas tergambar bahwa Rasulullah sangat menghargai makanan. Beliau gemar memuji makanan, tetapi tidak lantas menjadikan beliau mudah berucap dengan mencela makanan yang tidak disukai.