Social media menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ada yang menjadikan social media tempat hiburan, ada juga yang memposisikannya sebagai tempat kerja karena memang aktivitasnya sebagai content creator, social media manager, dan lain-lain. Social media menjadi ekosistem baru tempat konsumen, produsen, dan pemilik platform berkumpul secara digital.
Sebagai konsumen alias penikmat konten, setiap hari, kita menghabiskan waktu berjam-jam scrolling di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, YouTube dan X. Di balik kesenangan dan hiburan yang ditawarkan, ada masalah serius yang sering kali terabaikan yaitu kesehatan mental. Spesifik ke anak muda, banyak yang tidak menyadari bahwa konsumsi konten di social media dapat berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Pew Research Center, sekitar 70% remaja merasa bahwa media sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap cara mereka melihat diri sendiri dan orang lain.
Dampak Negatif
Setidaknya inilah top 3 dampak negatif dari social media terhadap kesehatan mental anak muda sangat beragam, bahkan selain anak mudapun juga pasti merasakannya.
- Budaya Membanding-Bandingkan
Salah satu yang paling umum adalah perbandingan sosial. Ketika kita terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain, kita cenderung merasa tidak cukup baik. Rasa ingin membanding-bandingkan ini jelas karena melihat konten dari teman atau kerabat kita yang kita rasa lebih baik atau lebih beruntung dari kita, seketika kita merasa lebih rendah dan menimbulkan penyakit hati yaitu iri. - Cyberbullying
Ini adalah bullying tapi versi online. Ini bisa berujung pada masalah kepercayaan diri dan merasa turunnya harga diri. Selain itu, social media juga dapat menjadi tempat berkembangnya cyberbullying karena seolah-olah tidak ada penghalang untuk kita kapan saja ingin mem-bully orang lain. Menurut data dari Cyberbullying Research Center, sekitar 34% dari anak muda mengalami bullying online. Hal ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan trauma jangka panjang. - Pola Tidur Berantakan
Untuk sebagian pengguna social media yang sangat intens dengan social media, screentime yang berlebihan juga dapat mengganggu pola tidur. Banyak anak muda yang terjaga hingga larut malam hanya untuk mengecek notifikasi atau melihat konten terbaru. Kecanduan scroll dan swipe social media ini menjadikan kurang tidur yang berdampak buruk mempengaruhi kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Health menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan.
Jadi, bisa dibilang, social media tidak hanya mempengaruhi pikiran kita, tetapi juga kesehatan fisik kita. Jika tidak dikontrol secara sadar, 3 dampak negatif di atas akan terasa cepat atau lambat.
Mencari Solusi
Jika di awal sudah dipaparkan negatifnya, lantas apa mindset yang benar dan perilaku yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak negatif social media terhadap kesehatan mental?
- Social media itu belum tentu nyata
Penting untuk menyadari bahwa tidak semua yang kita lihat di social media adalah kenyataan. Cobalah untuk lebih kritis dalam menilai konten yang kita konsumsi. Ada memang yang membagikan kontennya secara jujur dan apa adanya, tapi tidak sedikit juga yang hanya membagikan yang terbaik sampai tak ragu untuk membuat konten seolah-olah itu nyata. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki perjuangan dan tantangan masing-masing, meskipun mereka tidak selalu mempublikasikannya di social media. - Screentime adalah acuan
Batasi waktu penggunaan social media. Cobalah untuk menetapkan waktu tertentu untuk menggunakan social media dan patuhi batasan tersebut. Jika untuk beribadah saja kamu bisa membagi waktu dan disiplin, untuk urusan sekedar social media pastinya lebih bisa dilakukan. Dengan cara ini, kamu bisa lebih fokus pada aktivitas lain yang lebih positif dan bermanfaat. - Selektif dalam mengkonsumsi konten
Cobalah untuk mengikuti akun-akun yang memberikan konten positif dan inspiratif. Alih-alih mengikuti akun yang membuatmu semakin merasa buruk dan tidak berfaedah, carilah akun yang mempromosikan kesehatan mental, kebahagiaan, produktivitas, motivasi dan pencapaian. Ini bisa membantu menciptakan isi social mediamu menjadi yang lebih sehat dan menyenangkan.
Kesadaran dan mindset yang tepat dalam ber-social media bisa meminimalkan dampak negatif. Ingat selalu bahwa hidup tidak selalu seindah yang terlihat di layar. Gunakan social media dengan bijak dan ciptakan pengalaman yang lebih positif bagi diri kita dan orang lain. Gadget kita dalam genggaman kita, pastikan kita bisa dalam kendali penuh juga untuk isinya, termasuk konten social media.