Pada sebuah ayat Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Hal ini tercantum pada QS. Al-Baqarah ayat 191:

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقٰتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِۚ فَاِنْ قٰتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْۗ  كَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ

Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Padahal, fitnah53) itu lebih kejam daripada pembunuhan. Lalu janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.
(Al-Baqarah [2]:191)

Ayat tersebut membawa pesan agar kita berhati-hati dalam berkata dan tidak menyebarkan fitnah. Namun, bagaimana jika ada pada posisi orang yang mendapatkan fitnah? Sikap seperti apa yang harus ditunjukkan jika kita berhadapan dengan orang memfitnah kita?

Sebelum kita tersulut emosi karena merasa difitnah, sebenarnya kita perlu mengevaluasi diri kita dulu. Hal ini penting dilakukan karena bisa saja kita yang lalai atau lupa pada sebuah peristiwa yang kita lakukan, dan yang orang lain bilang tentang kita adalah hal benar. Walaupun tidak dibenarkan jika orang lain membicarakan kita di belakang, tetapi yang lebih penting dan jadi tanggung jawab kita adalah menjaga diri.

Ada kalanya sebuah fitnah muncul dari kesalahpahaman dan rumor saat kita hidup bermasyarakat. Ada baiknya kita untuk berani meminta maaf terlebih dahulu jika ada kabar tidak baik tentang diri kita yang tersebar, dan jangan ragu mengonfirmasi jika ada fitnah yang terdengar. Tanggung jawab kita ada pada batas mengonfirmasi. Persoalan orang lain mau percaya atau tetap tidak percaya dengan konfirmasi kita, hal itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka dengan Allah.

Selain mengonfirmasi, kita perlu menyadari bahwa saat kita mendapat berita tidak benar bukan berarti kita telah bersih dari kesalahan lain. Tetaplah ingat pada dosa kita dan jangan angkuh sebagai makhluk. Mintalah ampun pada Allah.

‘Kesalahanmu yang Allah tutupi dari manusia jumlahnya lebih banyak. Ingatlah akan nikmat Allah ini di mana Ia tidak perlihatkan kepada si penuduh kekurangan-kekuranganmu lainnya ….
(Dikutip dari buku Ar Riyaa halaman 68)

Langkah terakhir tentulah agar kita tetap bersaha untuk senantiasa sabar dan ikhlas dalam menghadapi fitnah, serta bukakan pintu maaf serta doa yang baik bagi orang yang memfitnah kita. Percayalah bahwa sesungguhnya fitnah itu tidak merugikan kita, tetapi justru merugikan orang yang menyebarkan fitnah karena akan menambah dosanya. Allah berfirman tentang hal tersebut di QS. An-Nuur ayat 11:

اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ  لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat.
(An-Nūr [24]:11)

Share This

Share This

Share this post with your friends!