Ada “ing” di kata “branding” yang mana sesuai literasi bahasa inggris itu artinya continous atau sedang dikerjakan atau berkelanjutan. Ketika mendengar kata branding, sederhananya kita bisa maknai bahwa itu adalah kegiatan yang terus berlangsung. Jika ditanya “berlangsung sampai kapan?”. Jawabannya sampai entitas atau si brand itu sendiri tetap eksis.

Lalu bagaimana dengan personal branding? Sesederhana proses branding tapi yang melekat ke individu tertentu. Itulah kenapa juga ada istilah “top of mind brand” alias apa yang pertama kita pikirkan ketika terpikir brand tertentu. Kaitannya dengan personal brand, ketika kamu disebutkan sebuah nama dari orang, kamu biasanya akan spontan terpikir sifat tertentu: baik, pemarah, alim, dan lainnya, tergantung histori kamu berinteraksi dengan orang itu. Sedangkan hubungan antara personal branding dengan social media adalah sebuah keniscayaan, ibarat personal branding adalah makanan, social media adalah medium penyajiannya.

Konsep Personal Branding di Social Media

Secara definisi, personal branding adalah proses menciptakan citra atau identitas diri yang kamu tampilkan kepada publik. Sederhananya, personal branding adalah proses mengekspresikan

  • apa yang kamu suka, dan
  • apa yang tidak kamu suka

yang menjadi ciri khasmu sehingga orang lain paham. Kenapa “proses”? Karena ini memang akan terus dilakukan selama kamu eksis. Terkesan didesain? Benar, awalnya kita desain dan secara sadar kita lakukan, tapi lama kelamaan itu akan menjadi kebiasaan dan karakter kita.

Di tingkat usia berapapun, pasti masing-masing dari kita mempunyai hobi, passion, karir, atau apa pun yang menyita waktu kita paling banyak. Tapi jika itu semua ditumpahkan ke social media, audience akan bingung dengan personal branding kita. Misalnya kamu suka menulis, travelling, kuliner, fitness, dan hewan peliharaan. Bayangkan semuanya itu kamu publikasikan ke social media, audience akan kebingungan tentang apa yang menjadi ciri khasmu alias “kamu ingin dikenal sebagai apa?”.

Menentukan Identitas dan Nilai yang Ingin Ditingkatkan

Ini bukan sekadar soal mem-posting foto atau video. Personal branding berfokus pada bagaimana kamu ingin dilihat oleh orang lain dan value apa yang kamu tawarkan. Social media seperti Instagram, LinkedIn, dan TikTok adalah alat yang memungkinkan kamu menampilkan kemampuan, nilai, atau sudut pandang yang unik secara publik. Itulah yang lebih penting dan menjadi pembeda kamu dengan orang lain walaupun mempunyai kebisaan yang sama.

Keberhasilan personal branding bergantung pada

  • konsistensi
  • relevansi, dan
  • keaslian atau otentik

Setiap konten dan interaksimu dengan audience mencerminkan siapa dirimu. Jadi, penting untuk memastikan bahwa pesan yang kamu sampaikan konsisten dengan identitas yang ingin kamu bangun. Dengan strategi yang tepat, kamu dapat memperluas jaringan, membuka peluang karir, atau bahkan membangun kepercayaan audience terhadap kamu.

Langkah awal personal branding adalah menentukan citra atau reputasi yang ingin kamu bentuk. Tanyakan pada diri sendiri:

  • “Apa kekuatan atau keahlian utamaku?”
  • “Apa yang membuat aku berbeda?”
  • “Apa yang sering orang lain apresiasi kepadaku?”

Misalnya, jika kamu memiliki minat dalam fotografi, kamu bisa memposisikan diri sebagai fotografer yang mengkhususkan pada food photography atau foto kuliner. Semakin spesifik, kamu akan lebih muncul dan dikenal dengan lebih mudah.

Tidak kalah pentingnya lagi adalah menentukan nilai kamu, seperti:

  • kreativitas
  • profesionalisme, atau
  • empati

Gunakan nilai kamu sebagai acuan setiap kali kamu membuat konten, bayangkan di setiap kontenmu itu apakah mengandung nilai-nilai yang membentuk personal branding-mu.

Konsistensi dan Otentik adalah Kunci

Dari namanya saja sudah “personal branding”, ada “ing” yang artinya continous atau berkelanjutan, maka konsistensi adalah kunci. Konsistensi adalah salah satu elemen paling krusial dalam personal branding. Artinya, kamu harus mempunyai rutinitas membuat konten yang selaras dengan citra yang ingin kamu bentuk. Di platform social media yang kamu geluti, pastikan selalu ada konten baru? Kenapa? Karena jika audience sudah mulai menyukai kontenmu, memilih mengikuti atau follow aku kamu, lalu mereka tidak mendapatkan konten-konten baru alias kadang ada konten, kadang tidak ada, maka mereka perlahan akan beralih.

Satu hal lagi, konsistensi saja tidak cukup. Audience lebih tertarik pada sosok yang otentik. Jangan ragu untuk menunjukkan sisi otentik dari kamu sehingga kamu juga menikmati prosesnya. Hal otentik ini termasuk tantangan atau kegagalan yang kamu hadapi, itu bisa menjadi ide yang pastinya berbeda dengan orang lain. Konten yang otentik dapat membuat audience merasa lebih relevan denganmu dan ini membangun hubungan emosional dengan mereka.

Studi kasus seorang yang personal branding-nya di bidang kesehatan mental, dia membagikan kisah pribadi tentang perjuangannya menghadapi burnout pekerjaan, topik yang paling relevan dengan masa kini, berapapun usianya. Kejujurannya menarik banyak perhatian dan menciptakan interaksi yang organik dengan audience, pada akhirnya dia mendapatkan kepercayaan dan kesempatan untuk menjadi brand ambassador platform kesehatan.

Jangan berhenti menjadi konsumen social media. Social media bukan hanya tempat untuk bersosialisasi, tetapi juga platform untuk membangun personal branding yang kuat dan berpengaruh. Dengan menentukan identitas dan nilai diri kamu, memilih platform yang tepat, serta konsisten dan otentik, kamu dapat memperkuat citra diri kamu secara efektif melalui social media. Menarik bukan? Bagaimana mengoptimalkan konten persoanl branding di social media? Kita bahas di artikel selanjutnya!

Share This

Share This

Share this post with your friends!